D javu

Pengertian Jamais Vu

Jamais vu (tidak pernah melihat) digambarkan sebagai sebuah situasi sudah pernah dikenal tapi tidak bisa mengenali.
Hal itu sering dianggap sebagai kebalikan dari deja vu dan menimbulkan perasaan ngeri dan takut. Anda tidak
mengenali sebuah situasi meskipun anda mengetahui secara rasional bahwa anda telah berada di dalam situasi itu
sebelumnya.

Secara umum dapat dijelaskan ketika seseorang beberapa saat tidak mengenali seseorang, kata, atau
tempat yang sebetulnya sudah diketahuinya.

Ini menjadikan orang percaya bahwa jamais vu merupakan sejenis gejala
dari kelelahan otak.

FUGUE







DEFINISI
Dissociative fugue adalah sebuah gangguan dimana salah satu atau lebih peristiwa yang tiba-tiba, tidak diharapkan, dan dengan maksud tertentu berjalan dari rumah (fugue) terjadi, sepanjang dimana seseorang tidak dapat mengingat beberapa atau seluruh masa lalunya.

Dissociative fugue mengenai sekitar 2 dari 1.000 orang di Amerika Serikat. Hal ini lebih umum pada orang yang telah mengalami perang, kecelakaan, atau bencana alam.


PENYEBAB
Penyebab dissociative fugue serupa kepada dissociative amnesia. Dissociative fugue sering disalaharti sebagai malingering, karena kedua kondisi bisa terjadi dibawah keadaan bahwa seseorang mungkin tidak bisa memahami keinginan untuk menghindar. Meskipun begitu, dissociative fugue terjadi secara spontan dan tidak dibuat-buat. Malingering adalah sebuah penyataan dimana seseorang berpura-pura sakit karena hal itu memindahkan tanggung jawab untuk tindakan mereka, memberikan mereka sebuah pengecualian untuk menghindari tanggung jawab, atau mengurangi sentuhan mereka untuk resiko yang diketahui, seperti tugas pekerjaan yang berbahaya.

Kebanyakan fugue tampak melambangkan pemenuhan keinginan yang disembunyikan (misal, lari dari tekanan yang berlebihan, seperti perceraian atau kegagalan keuangan). Fugues lainnya berhubungan dengan perasaan ditolak atau dipisahkanm atau mereka bisa melindungi orang tersebut dari bunuh diri atau impul pembunuhan. Ketika dissociative fugue berulang labih dari beberapa waktu, orang tersebut biasanya memiliki gangguan identitas dissociative yang mendasari.


GEJALA
Fugue bisa berlangsung dari hitungan jam sampai mingguan, atau kadangkala bahkan lebih lama. Seseorang yang dinyatakan fugue, mengalami kehilangan identitas biasanya, biasanya hilang dari tempat yang biasanya dikunjungi, meninggalkan keluarga dan pekerjaannya. Jika fugue tersebut singkat, orang tersebut bisa tampak secara sederhana kehilangan beberapa pekerjaan atau pulang terlambat, atau, jika bingung, bisa mengunjungi perhatian medis atau kekuasaan menurut undang-undang, jika fugue tersebut berlangsung beberapa hari atau lebih lama, orang tersebut bisa bepergian jauh dari rumah dan mulai pekerjaan baru dengan identitas yang baru, tidak menyadari setiap perubahan pada hidupnya. Selama fugue tersebut, orang tersebut bisa terlihat normal dan tidak menarik perhatian. Meskipun begitu, pada hal tertentu, orang tersebut bisa menjadi sadar pada ingatan yang hilang (amnesia) atau bingung mengenai identitasnya.

Seringkali orang tersebut tidak memiliki gejala-gejala atau hanya bingung yang ringan selama fugue tersebut, meskipun begitu, ketika fugue tersebut berakhir, orang tersebut bisa mengalami depresi, tidak nyaman, sedih, malu, konflik hebat, dan kecendrungan untuk bunuh diri atau impuls agresif.


DIAGNOSA
Seorang dokter bisa menduga dissociative fugue ketika seseorang tampak bingung mengenai jati dirinya atau bingung mengenai masa lalunya, atau ketika berhadapan dengan tantangan identitas orang tersebut atau kemangkiran seseorang. Dokter membuat diagnosa dengan secara hati-hati melihat kembali gejala-gejala orang tersebut dan melakukan penelitian fisik untuk menghilangkan gangguan fisik yang bisa menimbulkan atau menyebabkan hilangnya memori. Penelitian psikologi juga dilakukan.

Kadangkala dissociative fugue tidak dapat didiagnosa sampai orang tersebut kembali dengan tiba-tiba kepada identitas pre-fugue dan susah untuk menemukan dirinya pada keadaan yang tidak dikenalinya. Diagnosa tersebut biasanya dibuat secara retroactive oleh seorang dokter mereview riwayat dan pengumpulan informasi orang tersebut dimana dokumen keadaan sebelum orang tersebut meninggalkan rumah, berjalan dengan sendirinya, dan menetapkan pengganti kehidupan.


PENGOBATAN
Kebanyakan fugue berlangsung hitungan jam atau harian dan hilang dengan sendirinya. Dissociative fugue diobati lebih banyak seperti dissociative amnesia, dan pengobatan bisa termasuk penggunaan hypnosis atau wawancara obat-difasilitasi. Meskipun begitu, uoaya untuk menyimpan ingatan pada periode fugue biasanya tidak berhasil. Seorang terapis bisa membantu orang tersebut untuk memeriksa pola mereka pada penanganan jenis situasi tersebut, konflik, dan mood yang memicu (precipitated) episode fugue untuk mencegah perilaku fugue berikutnya.

KESEHATAN MENTAL

BAB I
PENDAHULUAN
Pesatnya perkembangan peradaban manusia ditandai dengan bertambah kompleksnya gaya dan cara kehidupan manusia. Perkembangan ini diikuti dengan persaingan sekaligus kerjasama dalam upaya menciptakan produk-produk baru dan upaya mengejar efisiensi dan efektivitas dalam bidang managerial. Persaingan antar manusia semakin menjadi untuk mencapai tingkat yang sesuai dengan cita-cita dan aspirasinya.
Perkembangan peradaban manusia ini dilengkapi dengan informasi yang juga berkembang pesat mengikuti kebutuhan manusia. Informasi selalu tersedia dan dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk memecahkan berbagai masalah kehidupan bagi mereka yang mau maju. Akan tetapi informasi yang melimpah akan mendatangkan malapetaka bagi mereka yang tak mampu memanfaatkannya.
Namun persaingan yang semakin tajam dalam hidup ini dapat membawa manusia kepada kerisauan yang timbul dari tekanan-tekanan yang dihadapi dalam dunia yang terlalu cepat berubah. Kondisi ini juga memicu perasaan ketakutan yang tidak wajar terhadap psikologi manusia dimana perasaan ini timbul karena seseorang takut ketinggalan informasi sehingga ia akan gagal, kalah dalam peraingan hidup, tidak dapat mengatasi permasalahan hidup, dan berbagai ketakutan lainnya yang berhubungan dengan kesehatan mental manusia. Untuk itu, konsep kesehatan mental sangat penting dan tidak dapat dipisahkan dari proses kehidupan pada umumnya dan proses pendidikan pada khususnya.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Kesehatan Mental
Menurut WHO definisi sehat adalah suatu keadaan berupa kesejahteraan fisik, mental dan sosial secara penuh dan bukan semata-mata berupa absensinya fisik atau keadaan lemah tertentu. Sedangkan menurut Zakiah Darojad, kesehatan mental adalah terhindarnya seseorang dari gejala - gejala gangguan dan penyakit jiwa, dapat menyesuaikan diri, dapat memanfaatkan segala potensi, bakat yang ada semaksimal mungkin dan membawah kepada kebahagiaan bersama serta mencapai keharmonisan jiwa dalam hidup.
Kesehatan mental / mental disorder merupakan betuk gangguan dan kekacauan fungsi mental ( kesehatan mental), yang disebabkan oleh kegagalan meraksinya mekanisme adaptasi dari fungsi – fungsi kejiwaan/ mental terhadap stimuli eksternal dan ketegangan – ketegangan sehingga muncul gangguan pada struktur kejiwaan. Gangguan Mental Merupakan totalitas kesatuan dari ekspresi mental yang patologis terhadap stimuli sosial, yang dikombniasikan dengan faktor – faktor sekunder lainnya.
Seperti halnya rasa pusing, sesak nafas demam panas dan nyeri – nyeri pada lambung sebagai pertanda permulaan dari penyakit jasmani, maka mental disorder itu mempunyai pertanda awal antara lain : cemas – cemas, ketakutan, pahit hati, dengki, apatis, cemburu, iri, marah – marah secara eksplosif, asocial, ketegangan kronis, dan lain – lain. Maka kesehatan mental yang baik itu, berarti mempunyai perasaan positif tentang diri sendiri, mampu menyelesaikan masalah dan tekanan hidup sehari-hari, dan bisa membentuk dan menjaga hubungan baik dengan orang lain. Selama ini kita sudah memahami pentingnya menjaga kesehatan fisik. Tapi menjaga kesehatan mental juga sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Kenyataannya, kesehatan mental yang buruk akan mengakibatkan kesehatan fisik yang buruk pula.

B. Beberapa teori tentang Kesehatan Mental

Ada beberapa teori yang membahas tentang kesehatan mental / disorder mental :
1. Teori Demonologis Vs Teori Naturalistis
Teori Demonologi menyebutkan kekalutan mental disebabkan oleh adanya unsur mistik, setan, roh jahat, atau sebagai perbuatan dukun jahat. Teori Naturalistis menyebutkan tingkah laku menyimpang atau kekalutan mental disebabkan oleh proses fisik atau jasmaniah. Teori ini sangat bertentangan dengan teori demologi yang menentang adanya hukuman pasung, perantaian, siksaan, dari akibat teori demonologi.
2. Teori Organis dan Teori Psikologis
Teori Organis menyebutkan bahwa kekalutan mental disebabkan kerusakan jaringan – jaringan otot / gangguan biokemis pada otak yang disebabkan oleh faktor genetik disfungsi endoktrin, infeksi atau luka – luka. Teori Psikologis Freud pencipta teori psikoanalisa mengatakan bukan luka anatomis atau kesalahan biokemis yang menyebabkan patologis, akan tetapi disebabkan proses belajar yang keliru, seperti, kemanjaan, salah didik pada usiaa muda.
3. Teori Intrapsikis dan Teori Behavioristis
Teori Intrapsikis adalah kekalutan mental lebih dibentuk dari kesalahan karakter dan konflik yang menyusut tajam pada kejiwaan, yang lebih condong kepada internal / batiniah.Teori Behavioristis tingkah laku abnormal lebih disebabkan kebiasaan – kebiasaan yang maladaftif salah dalam penyesuaian diri. Maka gangguan mental lebih condong ke tingkah laku lahiriah / eksternal.
4. Psikoanalis : Konflik dan Fiksasi
Behaviorisme : Stimulus / respons, belajar dan psikopatologi).
Psikoanalisis semua gangguan mental itu teletak dalam individu itu sendiri yang berupa pertempuran dorongan infantil melawan pertimbangan matang dan rasional.
Behaviorisme
Gejala Fobia ( ketakutan ) bisa diperoleh dari proses belajar dan pengkondisian. ( respons yang terkondidi )
C. Masyarakat Modern dan Kesehatan Mental

Siapa yang bisa terganggu kesehatan mentalnya, Siapapun dapat terganggu kesehatan mentalnya. Sesuatu terkadang diluar dugaan banyak orang, paling tidak, satu dari lima orang dalam satu populasi terganggu kesehatan mentalnya. Mungkin saja orang lain atau kita. Jika kita mendengar kata kesehatan mental yang terganggu, kita sering buru-buru menghubungkan dengan kondisi mental tertentu, misalnya: depresi berat atau skizofrenia ( hilang ingatan atau gila ). Padahal kesehatan mental juga mencakup kondisi yang kita semua bisa mengalaminya, seperti stres, kecemasan, atau perasaan tertekan Ketika stres berubah menjadi distres, Stres dalam intensitas tertentu malah baik dan positif, membuat kita berkembang. Tetapi bila berlebihan akan buruk dampaknya pada kesehatan mental maupun fisik. Kondisi ini ditandai dengan :
a. Merasa cemas dan khawatir berlebihan dalam menghadapi masalah
b. Ada perubahan nyata dalam pola tidur atau pola makan (berlebihan atau kurang)
c. Mudah tersinggung atau marah oleh sebab sepele
d. Sulit konsentrasi atau sulit membuat keputusan
e. Hal ini menandakan stres berubah menjadi distres (penderitaan).
Mengingat semakin pesatnya usaha pembangunan, modernisasi dan industrilisasi yang mengakibatkan semakin kompleknya masyarakat, maka banyak muncul masalah – masalah social dan gangguan mental di kota – kota besar. Semakin banyak warga masyarakat yang tidak mampu melakukan adjustment atau penyesuaian diri dengan cepat terhadap perubahan – perubahan social. Mereka itu mengalami banyak frustasi, konflik – konflik terbuka / eksternal dan internal, ketegangan batin dan menderita gangguan mental. Di kota besar orang harus berpacu dan bersaing dalam perlombaan hidup. Suasana yang kompetitif banyak diwarnai oleh tingkah laku yang tidak wajar yaitu, tingkah laku criminal, spekulatif, manipulative, obscure, licik, munafik, lacur, dan lainya. Hal ini menimbulkan banyak ketakutan dan ketegangan batin, danmenjadi penyebab timbulnya penyakit mental. Di kota besar lebih menonjolkan kepentingan diri sendiri dan rasa individualism, sehingga mata dan hati menjadi keras membeku terhadap kondisi orang lain. Disamping itu kemajuan – kemajuan yang pesat di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, mekanisasi, industrialisasi, dan urbanisasi, kehidupan modern semakin terurai dalam spelialisai – spelialisai dan pengotakan – pengotakan yang tidak terintregrasi yang dapat menyebabkan disorder mental.
Penderita kekalutan mental ini banyak terdapat dikalangan :
1. Di kota – kota besar lebih banyak dari pada di desa, dikota banyak orang merasa bingung, ditolak oleh masyarakat atau merasa terancam oleh macam – macam bahaya. Timbulnya rasa anomi, kesunyian, cemas, dan takut, dikejar – kejar, sehingga muncul disorganisasi, disasosiasi, dan disintegrasi.
2. Orang – orang Dewasa dan tua usia, jumlah penderita gangguan mental paling banyak pada kalangan dewasa factor social dan cultural adalah penyebab utamanya, karena munculnya perasaan isolasi social, hilangnya martabat diri, dan perasaan tidak dihargai oleh masyarakat.
3. Kalangan Anak Remaja dan puber ( usia kritis) karena pada usia ini masa kritis
4. Kalangan Dinas Militer ada perasaan tidak dapat menyesuaikan diri dengan kelompok baru dengan kedisiplinan yang ketat dan suasana otoriter )
5. Orang – orang status ekonomi rendah dan mata pencarian sangat minim, namun mempunyai tuntutan social dan ambisi materiil tinggi.
6. Gelandangan dan orang – orang migran ke kota yang tidak mempunyai pendidikan cukup dan keterampilan teknis sehingga kalah dalam persaingan kerja.
7. Lebih banyak pada kalangan Wanita
8. Broken Homes ( keadaan rumah tangga yang kacau )
9. Ateis
10. Orang – orang ekstrem dan super ortodoks serta fanatic terhadap doktrin – doktrin agama dan ide – ide politik, tanpa penggunaan nalar sehat dan pengendalian perasaan – perasaan.


D. Sebab – Sebab Semakin meningkatnya penderita Kesehatan Mental
Ada beberapa teori yang menyatakan sebab – sebab dari semakin benyaknya kasus kesehatan mental:
1. Teori Kompleksitas social, menyatakan bahwa dalam masyarakat modern sebagai produk dari pesatnya proses urbanisasi dan industrialisasi, orang sulit mengadakan adaptasi terhadap masyarakat yang serba otomatis, terpecah – pecah, selalu berubah serta serabutan, shingga timbulah rasa tidak mampu mengejar kemajuan zaman. Munculah rasa terisolasi rasa rendah diri dan ketakutan kronis.
2. Teori konflik cultural, dari teori – teori social menerangkan bahwa masyarakat modern merupakan satu high tensions culture penuh unsure ketegangan persaingan, dan konflik – konflik yang terbuka atau tersembunyi. Frustasi dalam pencapaian tujuan tertentu memudahkan berkembangnya frustasi, delusi, ilusi, ketegangan – ketegangan batindan disisolasi social.
3. Teori imitasi menyatakan bahwa tingkah laku penyimpangan atau deluktif, neurotis, dan psikis primer itu diperoleh dan dipelajari secara langsung atau tidak langsung dari orang tua sendiri.misalnya anak – anak dibiasakan menjadi kekerasan, hyperagresif, selalu tidak percaya terhadap orang lain.

E. Masalah kebutuhan dan kesehatan mental
Setiap manusia selalu mempunyai macam – macam kebutuhan untuk mempertahanka ekstensi hidupnya, sehingga timbulah dorongan, usaha dan dinamisme, untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Bila kebutuhan – kebutuhan tersebut terhalang atau mengalami frustasi akan tibul ketegangan – ketegangan dan konflik batin. Kebutuhan – kebutuhan tersebut dabagi dalam tiga kategori yaitu :
1. Kebutuhan fisis biologi, organis, atau kebutuhan vital
2. Kebutuhan social, yang bersifat kemanusiaan dan sosio budaya
3. Kebutuhan metafisis, religious, dan transcendental
Apabila kebutuhan vital biologis misalnya, makan, minum, tidur, udara segar, pakaian, istirahat, dan lain – lain tidak terpenuhi maka hal ini akan menimbulkan ancaman bagi eksistensi dirinya. Kebutuhan social banyak sekali macamnya yaitu sebanyak tingkah laku manusia seperti : kebutuhan seksuil, kebutuhan bekerja, mencari teman, berkumpul, kebebasan mengeluarkan pendapat, studi, hidup berkelompok, menciptakan budaya, dan lain lain. Kebutuhan religious atau transendendal atau hubungannya dengan maha pencipta, manusia ingin melestarikan dan mengabdikan hidupnya ia ingin mengintergrasikan kebenaran / eksistensinya dalam orde maha- absolud dengan Tuhannya.
F. Bentuk – bentuk mental disorder
a. Psikopat
Pengorganisasian / pengintegrasian pribadi, tidak bertanggung jawab secara moraldan selalu konflik dengan norma susila dan hukum.
Ciri – ciri :
1. Tingkah laku asosial
2. Sikapnya aneh – aneh
3. Suka mengembara
4. Pribadinya tidak stabil
5. Disorientasi terhadap lingkungan
6. Tidak bersikap loyal
7. Emosi tidak matang
8. Penyimpagan seksualitas

b. Psikoneurosa
Gangguan kekacauan fungsional pada sistem persyarafan / psikis dengan unsur kecemasan secara tidak sadar ditampilkan sebagai mekanisme pertahanan diri. Sebab – Sebab Psikoneurosa :
1. Tekanan sosial dan kultural yang sangat kuat
2. Frustai
3. Tidak rasional
4. Pribadi labil dan kemauan sangat lemah
Macam – macam gangguan psikoneurosa :
a. Histeria Gangguan disorded psikoneurotik yang ditandai dengan emosional yang ekstrem.
b. Psikastenia Merupakan gejala psikoneurosa yang dibarengi kompulsi, obsesi dan fobia dan cenderung irasional.
c. Ticks ( gangguan, berupa gerak facial/ wajah )
d. Hipoklondria Kecemasan kronis terhadap kesehatan sendiri
e. Neurastenia Syaraf – syaraf yang lemah tanpa energi, cepat lelah dan malas berbuat sesuatu.
f. Anxiety neurosis ( neurosa kecemasan ) Kecemasan kronis yang tidak ancaman yang spesifik.
g. Psikosomatisme Penyakit jasmani / fisik yang disebabkan konflik psikis / kecemasan kronis.
c. Psikosa fungsinal
Psikofungsional merupakan disorder mental secara fungsional yang nonorganic sifatnya, ditandai oleh disintegrasi / kepecahan kepribadian dan maladjustment sosialyang berat. Si penderita tidak mampu mengdakan relasi social dengan dunia luar, sering terputus samasekali dengan realitas hidup, lalu menjadi inkompeten secara social, terdapat pula gangguan pada karakter dan fungsi intelektual. Hal ini dapat disebabkan oleh :
a. Konstitusi pembawaan mental dan jasmani yang herediter, diwarnai dari orang tua atau generasi sebelumnya yang psikotis.
b. Kebiasaan – kebiasaan mental yang buruk dan pola – pola kebiasaan yang salah sejak masa kanak – kanak, yang ditambah dengan maladjustment parah dan menggunakan escape mechanisme dan defence mechanisme yang negative.


d. Langkah – langkah mengatasinya
Anda dapat melakukan langkah-langkah tertentu untuk mengatasinya. Kita cenderung beranggapan bahwa kesehatan mental adalah sesuatu yang berkaitan dengan kondisi dimana kita tidak bisa mengkontrol diri atau penanda kelemahan kepribadian. Persepsi tersebut tidak benar. Kita dapat melakukan sesuatu untuk membetulkan anggapan tersebut dan melindungi kesehatan mental kita.
1. Tetap aktif
Olah raga teratur dan menjaga kebersihan serta penampilan diri dapat membantu anda mempunyai perasaan positif.
2. Melibatkan diri dalam kelompok
Ikut dalam kegiatan atau klub, bertemu teman atau handai tolan secara teratur dalam suasana menyenangkan dan suportif, mempunyai sahabat tempat saling bercerita, ikut kursus-kursus, atau mempelajari hal baru yang anda sukai.
3. Menerima diri sendiri
Kita semua unik dan berbeda satu sama lain, dan tidak ada manusia sempurna. Semua orang mempunyai kelemahan seperti halnya kelebihan. Terimalah dan cintai diri sendiri secara wajar.
4. Relaks
Terlalu banyak kegiatan malah akan membuat anda merasa tertekan. Luangkan waktu untuk bersantai dan beristirahat. Penting juga untuk bisa tidur malam dengan baik, yang akan membantu meredakan stres. Tidur yang baik dan teratur merupakan penyegara pikiran. Tak lupa, lakukan hobi yang bisa membuat anda merasa nyaman serta relaks.

5. Menghindari alkohol dan narkoba
Karena dengan alcohol dan narkoba ini malah akan memperburuk kondisi anda.
6. Makan secara sehat dan teratur
Ini akan membantu anda merasa lebih baik dan memberi lebih banyak energi.
7. Mendekatkan diri pada Tuhan
Anda akan merasa ada sesuatu kekuatan yag akan menolong dan harapan untuk menjadi lebih baik serta mendapat ketenangan.
8. Kenali gejala kesehatan mental yang terganggu
Mempunyai kesehatan mental yang baik berarti mampu mengatasi tekanan hidup sehari-hari. Bila anda merasa tidak mampu mengatasi, atau malah mengatasi dengan alkohol dan narkoba (napza), anda mungkin mempunyai masalah yang memerlukan bantuan orang lain.
9. Mencari bantuan
Bila anda sakit secara fisik, maka anda akan berkonsultasi pada dokter. Begitu pula dengan kesehatan mental anda. Jangan merasa malu atau ragu untuk mencari pemecahan masalah kesehatan mental anda pada ahlinya (konselor, psikolog klinis, psikiater).

BAB III
PENUTUP
A. SIMPULAN
Kesehatan mental / mental disorder merupakan betuk gangguan dan kekacauan fungsi mental ( kesehatan mental), yang disebabkan oleh kegagalan meraksinya mekanisme adaptasi dari fungsi – fungsi kejiwaan/ mental terhadap stimuli eksternal dan ketegangan – ketegangan sehingga muncul gangguan pada struktur kejiwaan. Gangguan Mental Merupakan totalitas kesatuan dari ekspresi mental yang patologis terhadap stimuli sosial, yang dikombniasikan dengan faktor – faktor sekunder lainnya.

B. SARAN
Kenyataan mengenai kehidupan, masalah kesehatan mental tak ubahnya dengan masalah kesehatan fisik. Sangat penting untuk mengenali gejala-gejala, menemukan cara untuk mengatasinya, dan melakukan langkah-langkah untuk melindungi diri dari berulangnya masalah dengan menjaga kesehatan mental anda.
Menderita gangguan kesehatan mental tidak usah takut atau malu. Hal itu wajar, sama halnya anda menderita sakit fisik. Bila anda merasa mempunyai masalah, terbukalah dan bicarakan dengan orang yang anda percayai. Hal itu bukan pertanda kelemahan pribadi. Bila anda melihat gejala tersebut pada orang lain, dorong orang tersebut untuk membicarakannya.

DAFTAR PUSTAKA
Fromm, Erich, Masyarakat yang Sehat (the Sane Society) terjemah, Thomas Bambang Murtianto, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1995.
Hawari, Dadang, Al-Qur'an Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa, Yogyakarta: Bina Bhakti Prima Yasa, 1995.
Bima Walgito, Kesehatan mental, Yogyakarta: Yayasan Pernebitan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, 1982.
Moeljono Notosoedirdjo, Latipun, Kesehatan Mental, Malang: Universitas Muhammadiyah Malang, 1999.
Yusak Burhanuddin, Kesehatan Mental, Bandung: CV Pustaka Setia, 1999

adjusmen mal adjusmen

KESEHATAN MENTAL : ADJUSTMENT DAN MALADJUSTMENT

Adjustment dan Maladjustment
1. Adjustment
Ada beberapa pengertian tentang adjustment
a) Adjustment diartikan sebagai adaptasi atau penyesuaian diri dalam pengertian yang lebih luas berarti kemampuan untuk dapat mempertahankan eksistensinnya untuk memperoleh kesejahteraan jasmaniah dan rohaniah
b) Adjustment bisa di artikan sebagai konformitas atau cocok, pas , sesuai dengan norma-norma hati nurani sendiri dan norma-norma social dalam kehidupan masyarakat.
c) Adjustment diartikan sebagai penguasa, yaitu memeliki kemampuan untuk membuat rencana dan mengorganisir respons-respons sedemkian rupa sehingga bisa menguasai atau menanggap segala macam konflik, kesulitan masalah hidup dan prustrasi-prustrasi dengan cara efisien.
d) Adjustment diartikan sebagai hygiene fisik caranya adalah cukup beristirahat dan tidur, guna meredusir segala kecapaian dengan ganguan batin. Membiasakan diri hidup teratur dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik.
e) Adjustment diartikan sebagai penguasaan dan kematangan emosional
Pribadi memeliki cukup emosi dan sentiment yang kuat selalu merasa segar. dan cocok, ada rasa kasih sayang, simpati, respect, kelembutan dan kesediaa untuk menolong tanpa ditindih oleh rasa permusuhan. Benci, dendam, iri hati, cemburu.




f) Adjustment dihubungkan dengan seks
yaitu berupa kemampuan untuk mereaksi secara wajar terhadap realitas seks.
g) Adjustment terhadap keluarga yaitu mempunyai relasi yang sehat dengan segenap anggota keluarga. Pada anak-anak dan orang muda ada kesediaan menerima otoritas orang tua, disertai untuk memeliki tanggung jawab, bersedia menerima larangan-larangan, aturan-aturan dan disiplin yang tertentu yang di tegakkan ditengah likungan keluarga.
h) Adjustment terhadap sekolah kehidupan dalam sekolah merupakan satu bagian kecil dari realitas. Oleh karena itu hilangnya interesse pada mata pelajaran sekolah, kebiasaan suka membolos.
i) Adjustment sebagai social adjustment ada kesanggupan untuk mereaksi secara efektif dan harmonis terhap realitas social dan situasi social, dan bisa mengadakan relasi social yang sehat, bisa menghargai peribadi, dan menghargai hak-hak sendiri di dalam masyarakat, bisa bergaul dengan orang lain dengan jalan membina persahabatan yang kekal, sebab sikap berkepala batu, mau menang sendiri, tidak bisa ramah.
j) Adjustment sebagai penyesuaian cultural(cultural adjustment) adjustment juga berarti dapat menghargai nilai, hukum, adat kebiasaan, tradisi, norma-norma social, dan kebiasaan masyarakat.
k) Adjustment terhadap nilai-nilai moral dan regilius nilai-nilai moral yaitu segala nilai yang bersangkutan dengan ajaran kesopanan dan kesusilaan merupakan aspek yang amat penting dari realitas hidup. Dan moralitas itu sendiri adalah bagian esensial dari sifat kemanusiaan.
2. Maladjustment
Maladjustment dapat diartikan sebagai ketidak sesuaian diri atau kebalikan dari adjustment.

Dapat disimpulakan bahwa adjustmen itu adalah penyusuaian diri sendiri dengan lingkungan dan usaha manusia untuk mencapai harmoni pada diri sendiri dan lingkungan. sedangkan maladjustment ketidak bisanya menyesuaikan diri sendiri dan dengan lingkungan.

MONORISME(LATA)

Apa itu latah...? Macam latah...? Bahaya Latah

A. Pengertian Latah
1. Menurut KBBI edisi ketiga, latah mempunyai arti ;
  • Menderita sakit saraf dengan suka meniru-niru perbuatan atau ucapan orang lain.
  • Berkelakuan seperti orang gila, misalnya; karena kehilangan orang yang dicintai
  • Meniru-niru sikap, perbuatan, atau kebiasaan orang atau bangsa lain
  • Mengeluarkan kata-kata yang tidak senonoh.
2. Menurut Dr. Rinrin R. Kaltarina, Psi.,M.Si., Latah adalah ucapan atau perbuatan yang terungkap secara tak terkendali setelah terjadinya reaksi kaget.
3. Latah adalah ucapan atau perbuatan yang terungkap atau tidak terkendali, pascareaksi kaget (starled reaction). Saat latah muncul yang berkuasa alam bawah sadar (subconcious).

B. Penyebab Latah
Ada beberapa teori yang menyebabkan timbulnya gangguan latah, yaitu;
  • Teori Pemberontakan. Dalam kondisi latah, seseorang bisa mengucapkan hal-hal yang dilarang tanpa merasa bersalah. Gejala ini semacam gangguan tingkah laku. Lebih kearah obsesif karena ada dorongan yang tidak terkendali untuk mengatakan atau melakukan sesuatu.
  • Teori Kecemasan. Gejala latah muncul karena yang bersangkutan memiliki kecemasan terhadap sesuatu tanpa ia sadari. Rata-rata, dalam kehidupan pengidap latah selalu terdapat tokoh otoriter, entah ayah atau ibu. Bisa jadi, latah merupakan jalan pemberontakannya terhadap dominan orang tua yang sangat menekan. Walau demikian tokoh otoriter tidak harus berasal dari lingkungan keluarga.
  • Teori Pengondisian. Inilah yang disebut latah gara-gara ketularan. Seseorang mengidap latah karena dikondisikan oleh lingkungannya, misalnya gara-gara latah, seseorang merasa diperhatikan dan diperhatikan oleh lingkungan. Dengan begitu, latah juga merupakan upaya mencari perhatian. Latah semacam ini disebut ”latah gaul”.
Penyebab utama latah adalah kecemasan atau tertekan gara-gara stres.C. Macam – Macam Latah
Menurut Dr. Rinrin R. Kaltarina, Psi.,M.Si. Ada empat macam latah.
  1. Ekolalia: mengulangi perkataan orang lain
  2. Ekopraksia: meniru gerakan orang lain
  3. Koprolalia: mengucapkan kata-kata yang dianggap tabu/kotor
  4. Automatic obedience: melaksanakan perintah secara spontan pada saat terkejut, misalnya; ketika penderita dikejutkan dengan seruan perintah seperti ”sujud” atau ”peluk”, ia akan segera melakukan perintah itu.



D. Bahaya Latah
  • Mengekang Kreatifitas. Karena kita sudah terbiasa untuk meniru orang lain, berbuat seperti orang lain bertingkah laku. akhirnya kita kehilangan daya untuk ‘mencipta’ hal-hal yang baru, yang lebih segar dan kita akan mapan dengan kejumudan. “be a leader dont be a follower”
  • Mengikis keberagaman. Jangan harap menemukan hal-hal ‘baru’ jika budaya ini terlanjur menjadi akut. semua orang akan memilih untuk seragam ketimbang bersusah payah membuat hal yang sama sekali lain. Bisa-bisa slogan kita akan berubah dari “walaupun berbeda namun tetap satu jua” menjadi “walaupun satu asalkan berbeda-beda”.
Baik Buruknya Tergantung Peniruan
Menurut Evi Elviati, Psi., psikolog dari Essa Consulting Group, baik buruknya anak bersikap latah terhadap sang teman tergantung apa yang ditirunya. Jika sifatnya negatif, maka orang tua harus segera menghentikan dengan memberinya penjelasan kepada anak. Sebaliknya, jika yang dicontoh adalah hal-hal positif, maka orang tua justru harus memberikan dukungan agar anak terus melakukan hal itu.

E. Penanganan / Penyembuhan
Syarat munculnya latah adalah adanya keterkejutan. Untuk mengurangi dan menyembuhkan latah, ia harus bisa menemukan ketenangan hidup. Misalnya, keluar dari rumah kalau orang tuanya kerap melakukan tekanan atau berganti bidang pekerjaan jika pekerjaannya itu membuatnya stres.
Untuk menyembuhkan si latah, lingkungan memang harus berempati. Ada penderita latah yang sembuh sendiri setelah berkeluarga dan hidup tenang. Selebihnya, penderita dianjurkan melakukan latihan relaksasi, meditasi, dan konsentrasi secara rutin. Kegiatan ini akan membantu penderita menuju kesembuhan. Dan, sering-seringlah melakukan aktivitas menyenangkan yang tidak membuat stres (Dr. Rinrin R. Khaltarina, Psi., M.Si.).
Terapi puasa cukup populer di Eropa maupun AS. Kabar gembira lain, hasil riset terakhir membuktikan puasa yang dijalankan secata tepat dan benar, bisa berfungsi sebagai terapi bagi penderita latah. Ini bersumber kepada fakta bakti bahwa pausa dapat membuat seseorang lebih mampu menguasai dan mengendalikan diri.



Referensi

from http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0603/08/1001.htm
from http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/102006/05/syiar06.htm
from http://kafka.web.id/depan_130.html
from http://andalasdejava.wordpress.com/2007/09/05/mental-latah-kita/
from http://blog.dakota23.com/archives/2005/04/12/latah/

Somnabulisme

Somnabulisme (Berjalan sambil tidur...?)
"Tidur berjalan", istilah apa itu? Mungkinkah kita tidur sambil berjalan, atau berjalan sambil tidur?

Yang bener aja... Bener, kok, suer!!! Kalo nggak percaya, simaklah uraian berikut ini... Selamat mengikuti!

Pendahuluan

Pembahasan di dalam artikel ilmiah populer berikut ini meliputi:
1. Sinonim
2. Definisi
3. Penyebab
4. Pemicu
5. Patofisiologi
6. Epidemiologi
7. Tanda dan Gejala
8. Pedoman Diagnostik
9. Pemeriksaan Penunjang
10. Penatalaksanaan
11. Diagnosis Banding
12. Penyulit
13. Prognosis
14. Pencegahan
15. Tahukah Anda?
16. Referensi dan Bacaan Lebih Lanjut
17. Tentang Penulis

Sinonim
Beberapa istilah lain somnambulisme:
1. Berjalan sewaktu (ter)tidur
2. Berjalan-jalan dalam keadaan tidur
3. Jalan-waktu-tidur
4. Noctambulation
5. Noctambulism
6. Sleepwalking
7. Somnambulism
8. Somnambulance
9. Somnambulation
10. Somnambulating
11. Parasomnias of childhood
12. Oneirodynia activa
Penderita somnambulisme disebut juga sleep-walker.

Definisi
1. Berjalan saat tidur.
2. Walk in one's sleep.3. Walking by a person who is asleep.4. Kondisi yang memengaruhi masyarakat (terutama anak-anak)
dimana mereka bangun dan berjalan-jalan saat mereka masih
tidur nyenyak. [Condition affecting some people (especially children),
where the person gets up and walks about while still asleep.]

Penyebab

Meskipun sepertiga kasus ini memiliki dasar keluarga (familial basis), penyebab pastinya belum diketahui (Fauci A.S., et.al., 2008). Namun menurut Ackroyd G (2007) ada empat faktor yang menjadi penyebab, yaitu:

1. Genetika

Somnambulisme lebih sering terjadi pada kembar monozigot dan sepuluh kali lebih sering didapatkan jika suatu first-degree relative memiliki riwayat somnambulisme.

Dilaporkan pula adanya peningkatan frekuensi alel DQB1*04 dan *05.

Gen-gen DQB1 juga terlibat di dalam narcolepsy dan gangguan lain dari pengendalian motorik selama tidur, misalnya: gangguan perilaku Rapid Eye Movement (REM behavior disorder).

2. Lingkungan
Beberapa kondisi yang merupakan penyebab somnambulisme antara lain:
1. Kurang tidur (sleep deprivation)
2. Jadwal tidur yang tidak teratur/kacau (chaotic sleep schedules)
3. Demam (fever)
4. Stres atau tekanan (stress)
5. Kekurangan (deficiency) magnesium
6. Intoksikasi obat atau zat kimia, misalnya:
a. alkohol,
b. hipnotik/sedative (misal: Zolpidem),
c. antidepresan (misal: bupropion, paroxetine, amitriptyline),
d. neuroleptik (misal: lithium, reboxetine),
e. minor tranquilizers,
f. stimulan,
g. antibiotik (misal: fluoroquinolone),
h. medikasi anti-Parkinson (misal: levodopa),
i. antikonvulsan (misal: topiramate),
j. antihistamin.

3. Fisiologis
Panjang dan kedalaman SWS (slow wave sleep), yang lebih besar pada masa anak-anak awal (young children), merupakan faktor yang meningkatkan frekuensi parasomnia pada anak-anak.

Kehamilan dan menstruasi meningkatkan frekuensi pasien dengan parasomnia (salah satunya adalah: somnambulisme)

4. Berhubungan dengan Kondisi Medis

Beberapa kondisi medis yang berhubungan dengan somnambulisme antara lain:
a. Aritmia
b. Chronic paroxysmal hemicrania
c. Migraine
d. Fever
e. Gastroesophageal reflux
f. Nocturnal asthma
g. Nocturnal seizures
h. Obstructive sleep apnea
i. Gangguan psikiatris, seperti: posttraumatic stress disorder,
panic attack, dan dissociative states.
j. Hipertiroidisme

Pemicu
Menurut Prof.DR.dr. S.M. Lumbantobing, Sp.S(K), Sp.KJ. (2004), somnambulisme dapat dipicu oleh berbagai keadaan, seperti:
1. Deprivasi (kurang) tidur.
2. Demam.
3. Stres.
4. Medikasi (misalnya: fenotiazin, kloralhidrat, lithium).
5. Gangguan lain yang menyebabkan terbangun dari tidur (arousal),
misalnya: OSA (Obstructive Sleep Apnea), kandung kencing
penuh, suara keras.

Patofisiologi (Riwayat Timbulnya Penyakit)

Sleepwalkers memiliki ketidaknormalan pada pengaturan slow wave sleep. Disosiasi yang terjadi diantara tidurnya tubuh dan akal muncul dari aktivasi jalur thalamocingulate dengan persisting deactivation dari sistem thalamocortical arousal lainnya.

Epidemiologi

Menurut Lavie P, Pillar G, Malhotra A (2002):
Prevalensi
Saat usia puncak 4-8 tahun prevalensinya 20%. Sumber lain mengatakan 15-30%.
Saat usia dewasa prevalensinya 3-4 %. Sumber lain mengatakan 1-4%.

Rasio pria:wanita = 1:1.

Menurut Ackroyd G (2007),
Di Swedia
Prevalensi setahunnya 6-17%.
Insiden: 40%.

Di UK
Dari hasil survey pada orang dewasa di United Kingdom, 2,2% dilaporkan merasakan teror di malam hari. Dua persen dinyatakan somnambulisme, dan 4,2% dilaporkan dengan confusional arousals.

Tanda dan Gejala
A. Penderita somnambulisme dapat melakukan aktivitas seperti berikut:
1. Berjalan di seputar kamarnya atau di rumahnya.
2. Berjalan jarak jauh.
3. Mendadak duduk di tempat tidur.
4. Mengendarai (menyetir) mobil dalam keadaan tidur.

B. Dapat memiliki keadaan sebagai berikut:
1. Bila bicara, jarang bermakna. Dapat juga berkata jorok.
2. Kencing di tempat yang tidak biasanya (biasanya anak-anak)
3. Mata terbuka dan ekspresi wajahnya kosong.
4. Sulit bangun saat somnambulisme berlangsung.
5. Tidak ingat kronologis kejadiannya.

Pedoman DiagnostikMenurut PPDGJ (Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia) III Tahun 1995, somnambulisme memiliki kode diagnostik F51.3.

Gambaran di bawah ini adalah esensial untuk diagnosis pasti:
a. Gejala yang utama adalah satu atau lebih episode bangun dari
tempat tidur, biasanya pada sepertiga awal tidur malam,
dan terus berjalan-jalan; (kesadaran berubah).
b. Selama satu episode, individu menunjukkan wajah bengong
(blank, staring face), relatif tak memberi respons terhadap upaya
orang lain untuk memengaruhi keadaan atau untuk
berkomunikasi dengan penderita, dan hanya dapat
disadarkan/dibangunkan dari tidurnya dengan susah payah.
c. Pada waktu sadar/bangun (setelah satu episode atau besok
paginya), individu tidak ingat apa yang terjadi.
d. Dalam kurun waktu beberapa menit setelah bangun dari episode
tersebut, tidak ada gangguan aktivitas mental, walaupun dapat
dimulai dengan sedikit bingung dan disorientasi dalam waktu
singkat.
e. Tidak ada bukti adanya gangguan mental organik.

Somnambulisme harus dibedakan dari serangan Epilepsi Psikomotor dan Fugue Disosiatif (F.44.1).

Menurut Perdossi (2006), kriteria diagnosis untuk somnambulisme adalah sebagai berikut:

A. Klinis
1. Biasanya terjadi pada 1/3 pertama waktu tidur
(NREM stadium 3-4)
2. Penderita bangun duduk di tempat tidur, membuka mata,
membuka selimut, bergerak berputar seperti bertujuan,
dan berusaha meninggalkan tempat tidur.
3. Anak dapat berjalan ke kamar tidur orang tua dan memberikan
respon sederhana terhadap pertanyaan dan perintah.
Kadang-kadang kencing.
4. Penderita mencoba berpakaian, lalu berjalan mengelilingi tempat
tidur tapi menolak rintangan. Mengucapkan beberapa kata,
dapat naik tangga, memakai alat-alat dapur, dan berusaha
menyiapkan makanan.
5. Membuka pintu depan rumah, berjalan beberapa jauh,
dan bahkan mengendarai mobil.
6. Kecelakaan dapat terjadi akibat jatuh dari tangga, jendela,
atau sesudah berjalan di luar rumah. Penderita biasanya mau
diajak ke tempat tidur tanpa perlawanan.
7. Usaha untuk menghalang-halangi atau membangunkan haruslah
dihindari karena menyebabkan kebingungan, kecemasan, dan
keinginan melarikan diri yang dapat mencetuskan kekerasan
mendadak.
8. Tidak ada mimpi, tidak ingat apa yang terjadi, dan sesudahnya
segera tidur lagi.

B. Laboratoris
1. Polysomnography
untuk membedakan dengan gangguan tidur yang lain.
2. Rekaman video
sangatlah membantu melihat pola serangan.

C. Radiologis
Tidak ada kelainan.

D. Gold Standar
Polysomnography:
Tampak gelombang delta voltase tinggi pada stage 1 dan 2 NREM selama beberapa detik sebelum terjadinya sleep walking tanpa ada gambaran klinis epilepsi. Sering terbangun langsung dari stadium
1-2 NREM disertai atau tanpa sleep walking.

Rekaman video dapat menunjukkan pola aktivitas serangan.

E. Patologi Anatomi
Normal.


Pemeriksaan Penunjang
Polysomnogram.
Perilaku abnormal selama SWS (slow wave sleep) merupakan diagnostik.

Hypersynchronous aktivitas gelombang-delta lambat (slow delta-wave) telah terobservasi saat mengukur penderita somnambulisme yang sedang tidur dengan electroencephalogram.

Penatalaksanaan

A. Antidepresan trisiklik
Mekanisme kerjanya: memiliki efek antikolinergik perifer dan sentral dan berefek sedatif, sehingga dapat menghalangi active reuptake dari norepinephrine dan serotonin.

Contoh:
1. Amitriptyline

Dosis dewasa:
30-100 mg/hari PO hs

Dosis anak-anak:
0.1 mg/kg berat badan PO hs; dinaikkan jika ditoleransi lebih dari 2-3 minggu sampai 0,5-2 mg/hari hs.

Dosis remaja (adolescents):
25-50 mg/hari PO hs; naikkan bertahap hingga 100 mg/hari dalam dosis terbagi.

2. Nortriptyline

Dosis dewasa
25 mg PO tid/qid; tidak melebihi 150 mg/hari.

Dosis anak-anak
<25 kg: Tidak direkomendasikan 25-35 kg: 10-20 mg/hari PO 35-54 kg: 25-35 mg/hari PO >54 kg: diresepkan seperti dosis dewasa.

B. Benzodiazepin
Mekanisme kerjanya:
Benzodiazepin mengikat reseptor spesifik yang berhubungan dengan GABA-binding sites pada saluran klorida (chloride channels).
Frekuensi pembukaan channel meningkat, meningkatkan aliran ion klorida menuju neuron.

Indeks terapetik yang relatif tinggi dan potensial penyalahgunaannya yang rendah, menyebabkan benzodiazepin merupakan terapi pilihan untuk sedatif-hipnotik.

Contohnya:
Clonazepam

Dosis dewasa
0,5 mg PO hs dosis permulaan untuk gangguan tidur; dapat ditingkatkan secara cepat hingga 1 mg prn (jika perlu)

Dosis anak-anak
0.25 mg PO 1 jam sebelum hs dosis permulaan; dinaikkan secara berhati-hati prn.

C. Non-Farmakologis
* Teknik relaksasi, imajinasi mental, dan anticipatory awakenings sebagai manajemen terapi jangka panjang.

* Anticipatory awakenings terdiri dari membangunkan anak sekitar 15-20 menit sebelum waktu biasanya ia terbangun. Lalu jagalah ia tetap bangun hingga melewati waktu dimana episode biasanya terjadi.

Diagnosis Banding
Menurut Perdossi (2006), diagnosis banding somnambulisme:
1. Sleep terrors
2. Epilepsi
3. Episodic nocturnal wandering
4. Malingering (pura-pura sakit)
5. REM sleep behaviour disorder
6. Psychogenic fugues
7. Canfusional arousal

Menurut Ackroyd G (2007), diagnosis banding (differential diagnoses) somnambulisme antara lain:

1. Epilepsi jinak pada masa anak (benign childhood epilepsy)
2. Epilepsi lobus temporal (temporal lobe epilepsy)
3. Sindrom Tourette dan gangguan tic lainnya
4. Epilepsi pada anak dengan retardasi mental
(epilepsy in children with mental retardation)
5. Gangguan pergerakan periodik (periodic limb movement disorder)
6. Gangguan stres paskatrauma (posttraumatic stress disorder)
7. Gastroesophageal reflux8. Gemetaran hebat (shuddering attacks)
9. Kejang demam (febrile seizures)
10. Kejang parsial kompleks (complex partial seizures)
11. Kejang pertama pada anak (first seizure in pediatric)
12. Kejang neonatus (neonatal seizures)
13. Kejang neonatus yang tak berbahaya
(benign neonatal convulsions)
14. Kejang nonepilepsi psikogenik
(psychogenic nonepileptic seizures)
15. Kejang tonik-klonik (tonic-clonic seizures)
16. Kondisi disosiasi (dissociative states)
17. Kontraksi otot jantung yang abnormal (arrhythmias)
18. Migraine paroksismal kronis (chronic paroxysmal hemicrania),
19. REM (Rapid Eye Movement) sleep behavior disorder
20. Sakit kepala kluster (cluster headache)
21. Sakit kepala pada anak (headache in pediatric)
22. Serangan asma malam hari (nocturnal asthma)
23. Serangan cemas saat bermimpi (dream anxiety attacks)
24. Sindrom epilepsi tak berbahaya (benign epilepsy syndromes)
25. Serangan panik (panic attack)
26. Sesak nafas saat tidur (sleep apnea)
27. Vertigo karena posisi yang tak berbahaya
(benign positional vertigo)

Penyulit
1. Rasa malu
2. Risiko cedera

Prognosis

1. Kemungkinan bisa membaik sangat besar.
2. Mengganggu prestasi belajar.
3. Pada orang dewasa dilaporkan mempunyai risiko gangguan
psikiatri, gangguan tidur lainnya.

Pencegahan

Saran untuk penderita somnambulisme:
1. Sebaiknya tidak banyak minum sebelum tidur.
2. Pintu dan jendela tempat penderita tidur sebaiknya
dikunci/tertutup rapat, agar penderita tidak dapat keluar.
3. Berhati-hati dengan obat yang dikonsumsi, siapa tahu dapat
memperberat somnambulisme-nya.
4. Singkirkanlah semua benda yang membahayakan/melukai
penderita (misalnya: terinjak, dsb).
5. Lakukan higiene tidur dengan disiplin.
6. Teratur minum obat dan mematuhi nasihat dokter yang
merawatnya.
7. Kontrol teratur sesuai jadwal dari dokter atau rumah sakit.

Higiene tidur menurut Prof.DR.dr. S.M. Lumbantobing, Sp.S(K), Sp.KJ. (2004):
1. Tidur dan bangun teratur, pada jam yang sama, setiap harinya.
2. Tidur dengan waktu yang cukup agar puas di pagi hari.
3. Berolahraga setiap hari.
Jangan berolahraga sebelum tidur atau larut sore
atau malam hari.
4. Makan teratur.
5. Dengarlah musik yang lembut sebelum mematikan lampu
untuk tidur.
6. Pakailah tempat tidur twin bila teman tidur Anda lasak.
7. Hindarilah gangguan fisik berupa: cahaya, dingin, panas,
dan suara berisik.
8. Aturlah dengan dokter Anda mengenai obat yang Anda
butuhkan, sekiranya ada. Hindari obat yang merangsang.
9. Gunakanlah kasur yang lembut dan bantal yang empuk
agar tidur Anda menyenangkan.
10. Bila Anda terbiasa tidur siang, lakukanlah pada waktu
yang sama. Sesudah makan siang merupakan waktu
yang baik. Jangan tidur lebih dari 45 menit.
11. Kencing dulu sebelum naik ke tempat tidur
(diajarkan untuk anak-anak).

Tahukah Anda?
* Intoksikasi, berarti:
1. Kondisi fisiologis yang diproduksi oleh racun atau zat toksik
lainnya.
2. Kondisi sementara sebagai hasil dari konsumsi alkohol yang
berlebihan.

Referensi dan Bacaan Lebih Lanjut
Ackroyd G. Somnambulism (Sleep Walking)
cited from: http://emedicine.medscape.com (Updated: Mar 8, 2007).

Ajlouni KM, Ahmad AT, El-Zaheri MM, et al. Sleepwalking associated with hyperthyroidism. Endocr Pract. Jan-Feb 2005;11(1):5-10.

Fauci A.S., et.al. (ed.). Harrison's Principles of Internal Medicine Seventeenth Edition. The McGraw-Hill Companies. 2008. Chapter 28.
Guilleminault C, Kirisoglu C, da Rosa AC, et al. Sleepwalking, a disorder of NREM sleep instability. Sleep Med. Mar 2006;7(2):163-70.

Kryger MH et al (eds): Principles and Practice of Sleep Medicine, 4th ed. Philadelphia, Saunders, 2005.

Lumbantobing SM. Gangguan Tidur. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. 2004.

Maslim R. (ed.). Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa: Rujukan Ringkas dari PPDGJ – III. Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya, Jakarta, 2003:94.

Perdossi (Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia). Buku Pedoman Standar Pelayanan Mdis (SPM) dan Standar Prosedur Operasional (SPO) Neurologi Koreksi Tahun 1999 dan 2005. Jakarta. 2006;15;254-6.

TICS

Definisi TICS

"Tidur berjalan", istilah apa itu? Mungkinkah kita tidur sambil berjalan, atau berjalan sambil tidur?

Yang bener aja... Bener, kok, suer!!! Kalo nggak percaya, simaklah uraian berikut ini... Selamat mengikuti!

Pendahuluan

Pembahasan di dalam artikel ilmiah populer berikut ini meliputi:
1. Sinonim
2. Definisi
3. Penyebab
4. Pemicu
5. Patofisiologi
6. Epidemiologi
7. Tanda dan Gejala
8. Pedoman Diagnostik
9. Pemeriksaan Penunjang
10. Penatalaksanaan
11. Diagnosis Banding
12. Penyulit
13. Prognosis
14. Pencegahan
15. Tahukah Anda?
16. Referensi dan Bacaan Lebih Lanjut
17. Tentang Penulis

Sinonim
Beberapa istilah lain somnambulisme:
1. Berjalan sewaktu (ter)tidur
2. Berjalan-jalan dalam keadaan tidur
3. Jalan-waktu-tidur
4. Noctambulation
5. Noctambulism
6. Sleepwalking
7. Somnambulism
8. Somnambulance
9. Somnambulation
10. Somnambulating
11. Parasomnias of childhood
12. Oneirodynia activa

Penderita somnambulisme disebut juga sleep-walker.

Definisi
1. Berjalan saat tidur.
2. Walk in one's sleep.3. Walking by a person who is asleep.4. Kondisi yang memengaruhi masyarakat (terutama anak-anak)
    dimana mereka bangun dan berjalan-jalan saat mereka masih
    tidur nyenyak. [Condition affecting some people (especially children),
    where the person gets up and walks about while still asleep
.]

Penyebab

Meskipun sepertiga kasus ini memiliki dasar keluarga (familial basis), penyebab pastinya belum diketahui (Fauci A.S., et.al., 2008). Namun menurut Ackroyd G (2007) ada empat faktor yang menjadi penyebab, yaitu:

1. Genetika

Somnambulisme lebih sering terjadi pada kembar monozigot dan sepuluh kali lebih sering didapatkan jika suatu first-degree relative memiliki riwayat somnambulisme.

Dilaporkan pula adanya peningkatan frekuensi alel DQB1*04 dan *05.

Gen-gen DQB1 juga terlibat di dalam narcolepsy dan gangguan lain dari pengendalian motorik selama tidur, misalnya: gangguan perilaku Rapid Eye Movement (REM behavior disorder).

2. Lingkungan
Beberapa kondisi yang merupakan penyebab somnambulisme antara lain:
1. Kurang tidur (sleep deprivation)
2. Jadwal tidur yang tidak teratur/kacau (chaotic sleep schedules)
3. Demam (fever)
4. Stres atau tekanan (stress)
5. Kekurangan (deficiency) magnesium
6. Intoksikasi obat atau zat kimia, misalnya:
    a. alkohol,
    b. hipnotik/sedative (misal: Zolpidem),
    c. antidepresan (misal: bupropion, paroxetine, amitriptyline),
    d. neuroleptik (misal: lithium, reboxetine),
    e. minor tranquilizers,
    f. stimulan,
    g. antibiotik (misal: fluoroquinolone),
    h. medikasi anti-Parkinson (misal: levodopa),
    i. antikonvulsan (misal: topiramate),
    j. antihistamin.

3. Fisiologis
Panjang dan kedalaman SWS (slow wave sleep), yang lebih besar pada masa anak-anak awal (young children), merupakan faktor yang meningkatkan frekuensi parasomnia pada anak-anak.

Kehamilan dan menstruasi meningkatkan frekuensi pasien dengan parasomnia (salah satunya adalah: somnambulisme)

4. Berhubungan dengan Kondisi Medis

Beberapa kondisi medis yang berhubungan dengan somnambulisme antara lain:
a. Aritmia
b. Chronic paroxysmal hemicrania
c. Migraine
d. Fever
e. Gastroesophageal reflux
f. Nocturnal asthma
g. Nocturnal seizures
h. Obstructive sleep apnea
i.
Gangguan psikiatris, seperti: posttraumatic stress disorder,
   panic attack,
dan dissociative states.
j. Hipertiroidisme


Pemicu
Menurut Prof.DR.dr. S.M. Lumbantobing, Sp.S(K), Sp.KJ. (2004), somnambulisme dapat dipicu oleh berbagai keadaan, seperti:
1. Deprivasi (kurang) tidur.
2. Demam.
3. Stres.
4. Medikasi (misalnya: fenotiazin, kloralhidrat, lithium).
5. Gangguan lain yang menyebabkan terbangun dari tidur (arousal),
    misalnya: OSA (Obstructive Sleep Apnea), kandung kencing
    penuh, suara keras.

Patofisiologi (Riwayat Timbulnya Penyakit)

Sleepwalkers memiliki ketidaknormalan pada pengaturan slow wave sleep. Disosiasi yang terjadi diantara tidurnya tubuh dan akal muncul dari aktivasi jalur thalamocingulate dengan persisting deactivation dari sistem thalamocortical arousal lainnya.

Epidemiologi

Menurut Lavie P, Pillar G, Malhotra A (2002):
Prevalensi
Saat usia puncak 4-8 tahun prevalensinya 20%. Sumber lain mengatakan 15-30%.
Saat usia dewasa prevalensinya 3-4 %. Sumbe
0 komentar

0 komentar:

Poskan Komentar